Hotel Di Kuta, Bali


Kuta adalah daerah wisata, secara administratif merupakan desa kota (kelurahan), dan ibu kota Kabupaten Kuta, Kabupaten Badung, Bali selatan, Indonesia. Dahulu merupakan desa nelayan,Kuta merupakan salah satu kota pertama di Bali yang melihat perkembangan wisata yang substansial, dan sebagai resor pantai yang menjadi salah satu tujuan wisata utama Indonesia. Tempat ini terkenal secara internasional karena pantainya berpassirnya yang panjang, banyaknya akomodasi, banyak restoran dan bar, dan banyak peselancar terkenal yang berkunjung dari Australia. Kuta sendiri Terletak sangat dekat dengan Bandara Ngurah Rai Bali.

Pemerintah Provinsi Bali telah mengambil pandangan bahwa pelestarian budaya Bali, sumber daya alam dan satwa liar adalah yang paling penting dalam pengembangan pulau. Untuk tujuan ini mereka membatasi pengembangan wisata ke semenanjung di bagian selatan pulau yang ekstrem; Pantai Kuta berada di sisi barat semenanjung ini dan Sanur di sebelah timur. Di sebelah utara semenanjung tidak ada pengembangan wisata baru yang diizinkan.

Di sebelah selatan, Pantai Kuta membentang di luar bandara menuju Jimbaran. Kota dan desa terdekat lainnya termasuk Seseh, Denpasar, Ujung, Pesanggaran, Kedonganan , dan Tuban.

Pantai

Pantai Kuta telah terkenal sejak awal 1970-an. Pantai Kuta juga dikenal sebagai Sunset Beach, sebagai lawan dari Pantai Sunrise, nama lain untuk Pantai Sanur. Resor, restoran, dan klub mewah terletak di sepanjang pantai.

Pada tahun 2011, pagar batu pasir putih dua meter, dibangun dengan gaya arsitektur Bali, dibangun di sepanjang jalan untuk memblokir pasir agar tidak bertiup ke kafe dan restoran. Proyek ini menelan biaya Rp4 miliar ($ 0,47 juta). Beberapa wisatawan tidak menyukainya karena dianggap menghalangi pemandangan pantai, sementara yang lain percaya dinding membantu meredam suara dari lalu lintas yang padat di jalan yang berdekatan.

Untuk membuat pantai lebih bersih, hingga akhir Agustus 2011, para penjual dilarang menjual makanan di pantai, tetapi mereka masih diperbolehkan untuk menjual minuman dan suvenir.

Hotel Di Kota Cirebon


Kota Cirebon, (Carakan:ꦏꦶꦠꦕꦼꦂꦧꦺꦴꦤ꧀, Cirebon: Kita Cerbon) adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya. Jumlah penduduk kota Cirebon ditahun 2018 berjumlah 316.277 jiwa.

Pada awalnya Cirebon berasal dari kata sarumban, Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang kemudian diberi nama Caruban (carub dalam bahasa Cirebon artinya bersatu padu). Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa di antaranya Sunda, Jawa, Tionghoa, dan unsur-unsur budaya bangsa Arab), agama, bahasa, dan adat istiadat. kemudian pelafalan kata caruban berubah lagi menjadi carbon dan kemudian cerbon.

Selain karena faktor penamaan tempat penyebutan kata cirebon juga dikarenakan sejak awal mata pencaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi atau yang dalam bahasa Cirebon disebut (belendrang) yang terbuat dari sisa pengolahan udang rebon inilah berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda: air rebon), yang kemudian menjadi cirebon.

Etimologi

Cirebon dikenal dengan nama Kota Udang dan Kota Wali. Selain itu kota Cirebon disebut juga sebagai Caruban Nagari (penanda gunung Ceremai) dan Grage (Negeri Gede dalam bahasa Cirebon berarti kerajaan yang luas). Sebagai daerah pertemuan budaya antara Suku Jawa, Suku Sunda, Bangsa Arab, Tiongkok dan para pendatang dari Eropa sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon dalam berbahasa biasa menyerap kosakata bahasa-bahasa tersebut ke dalam bahasa Cirebon. Misalkan saja, kata Murad yang artinya bersusun (serapan dari bahasa Arab), kata taocang yang berarti kucir (serapan dari bahasa etnis Tionghoa), serta kata sonder yang berarti tanpa (serapan dari bahasa Belanda).

Pariwisata

Sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Barat, Kota Cirebon menawarkan banyak pesona mulai dari wisata sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam, kisah para wali, Komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar 15 km ke arah barat pusat kota, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid At Taqwa, kelenteng kuno, dan bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda. Kota ini juga menyediakan bermacam kuliner khas Cirebon, dan terdapat sentra kerajinan rotan serta batik.

Cirebon terdapat keraton sekaligus di dalam kota, yakni Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Tiongkok, dan Belanda. Ciri khas bangunan keraton selalu menghadap ke utara dan ada sebuah masjid di dekatnya. Setiap keraton mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul, pasar dan patung macan di taman atau halaman depan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya kerajaan Cirebon. Ciri lain adalah piring porselen asli Tiongkok yang jadi penghias dinding. Beberapa piring konon diperoleh dari Eropa saat Cirebon jadi pelabuhan pusat perdagangan Pulau Jawa.

Kota Cirebon memiliki beberapa kawasan taman di antaranya Taman Air Sunyaragi dan Taman Ade Irma Suryani. Taman Air Sunyaragi memiliki teknologi pengaliran air yang canggih pada masanya, air mengalir di antara teras-teras tempat para putri raja bersolek, halaman rumput hijau tempat para kesatria berlatih, ditambah menara dan kamar istimewa yang pintunya terbuat dari tirai air. Sementara beberapa masakan khas kota ini sebagai bagian dari wisata kuliner antara lain: Sega Jamblang, Sega lengko, Empal gentong, Docang, Tahu gejrot, Kerupuk Melarat, Mendoan, Sate beber, Mi koclok, Empal asem, Nasi goreng Cirebon, Ketoprak Cirebon, Bubur ayam Cirebon, Kerupuk Udang dan sebagainya.

Hotel di Batu, Malang


Tentang Kota Batu, Malang.

Kota Batu adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 90 km sebelah barat daya Surabaya atau 15 km sebelah barat laut Malang. Kota Batu berada di jalur yang menghubungkan Malang-Kediri dan Malang-Jombang. Kota Batu berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara serta dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, selatan, dan barat. Wilayah kota ini berada di ketinggian 700-2.000 meter dan ketinggian rata-rata yaitu 871 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata mencapai 11-19 derajat Celsius.

Kota Batu dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Malang, yang kemudian ditetapkan menjadi kota administratif pada 6 Maret 1993. Pada tanggal 17 Oktober 2001, Batu ditetapkan sebagai kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.

Batu dikenal sebagai salah satu kota wisata terkemuka di Indonesia karena potensi keindahan alam yang luar biasa. Kekaguman bangsa Belanda terhadap keindahan dan keelokan alam Batu membuat wilayah kota Batu disejajarkan dengan sebuah negara di Eropa yaitu Swiss dan dijuluki sebagai De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa Bersama dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang, Kota Batu merupakan bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya (Wilayah Metropolitan Malang).

Area Geografis

Wilayah Kota Batu terletak di kaki dan lereng pegunungan dan berada pada ketinggian rata-rata 700-2.000 m di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata mencapai 11-19 derajat Celsius. Batu dikelilingi beberapa gunung, di antaranya adalah:

  • Gunung Anjasmoro (2.277 m)
  • Gunung Arjuno (3.339 m)
  • Gunung Banyak (1.306 m)
  • Gunung Kawi (2.551 m)
  • Gunung Panderman (2.045 m)
  • Gunung Semeru (3.676 m)
  • Gunung Welirang (3.156 m)
  • Gunung Wukir (635 m)

Dengan luas wilayah sekitar 202,30 km², sebagian besar keadaan topografi kota Batu didominasi kawasan dataran tinggi dan perbukitan yang berlembah-lembah yang terletak di lereng dua pegunungan besar, yaitu Arjuno-Welirang dan Butak-Kawi-Panderman. Di wilayah kota Batu, yang terletak di sebelah utara pusat kota terdapat sebuah hutan lebat yang merupakan kawasan hutan lindung, yakni Taman Hutan Raya Raden Soerjo.

Jenis tanah yang berada di kota Batu sebagian besar merupakan andosol, selanjutnya secara berurutan adalah kambisol, latosol dan aluvial. Tanahnya berupa tanah mekanis yang banyak mengandung mineral yang berasal dari ledakan gunung berapi. Sifat tanah semacam ini mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi.

Sebagai layaknya wilayah pegunungan yang subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki panorama alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad ke-19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda, sehingga orang-orang Belanda itu ikut membangun tempat-tempat peristirahatan (villa) bahkan bermukim di Batu.

Situs dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa pemerintahan Hindia Belanda itu masih berbekas bahkan menjadi aset dan kunjungan wisata hingga saat ini.

Keindahan alam Batu yang memadukan antara nuansa arsitektur Eropa dan pegunungan yang indah memukau Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, sehingga setelah Perang Kemerdekaan, Soekarno-Hatta sempat berkunjung dan beristirahat di kawasan Selecta, Batu.

Open post
Islamic Cairo - Kairo - Mesir

Islamic Cairo – Kairo – Mesir

 

Islamic Cairo (Bahasa Arab: قاهرة المعز, artinya: Kairo Al-Mu’izz),
juga disebut Historic Cairo atau Medieval Cairo, adalah istilah yang merujuk ke area bersejarah Kairo, Mesir, yang ada sebelum ekspansi modern kota tersebut pada abad 19 dan 20, khususnya bagian tengah di sekitar kota tua dan sekitar Benteng Kairo.
Nama “Islamik” Kairo merujuk bukan pada keunggulan umat Islam di daerah tersebut, tetapi lebih ke warisan akan sejarah kota yang kaya sejak didirikan pada periode awal Islam, yang membedakannya dari dengan situs-situs lain di Mesir Kuno terdekat seperti Giza dan Memphis.Kairo memiliki konsentrasi arsitektur bersejarah terbesar dan terpadat di dunia Islam, seperti ratusan masjid, makam, madrasah, rumah-rumah mewah, karavanansis, dan benteng yang berasal dari seluruh era Islam Mesir. Pada tahun 1979, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan Historic Cairo sebagai situs Warisan Budaya Dunia, sebagai “salah satu kota Islam tertua di dunia, dengan masjid, madrasah, hammam dan air mancur yang terkenal” dan “pusat baru dari dunia Islam, mencapai zaman keemasannya di abad ke-14.

Masjid pertama di Mesir adalah Masjid Amr ibn al-As di Fustat, Masjid Ibn Tulun adalah masjid tertua yang mempertahankan bentuk aslinya dan merupakan contoh langka arsitektur Abbasiyah, dari periode klasik peradaban Islam yang dibangun pada 876-879 M dengan gaya yang terinspirasi oleh ibukota Abbasiyah Samarra di Irak. Ini adalah salah satu masjid terbesar di Kairo dan sering disebut sebagai salah satu masjid yang paling indah.

Masjid al-Azhar yang didirikan pada 970 M pada periode Fatimiyah tidak hanya berfungsi sebagai masjid namun juga sebagai salah satu lembaga pendidikan paling penting dan bertahan hingga saat ini. Saat ini, Universitas al-Azhar adalah pusat pembelajaran Islam terkemuka di dunia dan salah satu universitas terbesar di Mesir dengan kampus-kampus di seluruh negeri. Masjid itu sendiri tetap mempertahankan unsur-unsur Fatimiyah tetapi telah ditambahkan dan diperluas pada abad-abad berikutnya, terutama oleh sultan Mamluk Qaitbay dan al-Ghuri dan oleh Abd al-Rahman Katkhuda pada abad ke-18. Monumen lain yang masih ada dari era Fatimiyah termasuk Masjid besar al-Hakim, masjid al-Aqmar, Masjid Juyushi, Masjid Lulua, dan Masjid Salih Tala’i.

Namun, warisan arsitektur paling menonjol dari Kairo abad pertengahan berasal dari periode Mamluk, dari tahun 1250 hingga 1517 Masehi. Para sultan dan elit Mamluk sangat ingin menjadi pelindung kehidupan religius dan ilmiah, umumnya membangun kompleks keagamaan atau penguburan yang fungsinya dapat mencakup masjid, madrasah, khanqah (untuk para Sufi), pusat distribusi air (sabil), dan mausoleum untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Di antara contoh monumen Mamluk yang paling terkenal di Kairo adalah Masjid-Madrasah Sultan Hasan yang sangat besar, Masjid Amir al-Maridani, Masjid Sultan al-Mu’ayyad (yang menara kembarnya dibangun di atas gerbang Bab Zuwayla ), kompleks Sultan Al-Ghuri, kompleks pemakaman Sultan Qaytbay di Pemakaman Utara, dan trio monumen di daerah Bayn al-Qasrayn yang terdiri dari kompleks Sultan al-Mansur Qalawun, Madrasah al-Nasir Muhammad, dan Madrasah Sultan Barquq. Beberapa masjid termasuk spolia (seringkali kolom atau ibu kota) dari bangunan sebelumnya yang dibangun oleh Romawi, Bizantium, atau Koptik.
Tempat Ziarah dan makam

Islamic Cairo juga merupakan lokasi beberapa tempat Ziarah yang penting seperti Masjid al-Hussein (diyakini sebagai tempat dimana kepala Husein bin Ali di kuburkan), Mausoleum Imam al-Shafi’i (pendiri mazhab Syafi’i) , salah satu mazhab pemikiran utama dalam yurisprudensi Islam Sunni), Makam Sayyida Ruqayya, Masjid Sayyida Nafisa, dan lainnya. Beberapa tempat suci ini terletak di dalam area pemakaman luas yang dikenal sebagai Kota Orang Mati atau al-Qarafa dalam bahasa Arab, yang berdampingan dengan kota bersejarah. Kuburan-kuburan itu berasal dari zaman Fustat, tetapi banyak dari struktur mausoleum yang paling terkenal dan terkenal berasal dari zaman Mamluk.

Dinding dan gerbang
Setelah Kairo didirikan di timur laut Fustat pada tahun 959 M oleh pasukan Fatimiyah yang menang, Fatimiyah membangun kota megah terpisah yang berisi istana dan lembaga pemerintahan mereka. Yang tertutup oleh rangkaian dinding, yang dibangun kembali di atas batu pada akhir abad ke-11 Masehi oleh vizir Badr al-Gamali, yang sebagiannya masih bertahan sampai sekarang di Bab Zuwayla di selatan dan Bab al-Futuh dan Bab al-Nasr di utara.

Benteng
Di bawah pemerintahan Salah ad-Din (Solahuddin) dan penggantinya Ayyubiyah, kursi kekuasaan secara progresif dipindahkan ke Benteng besar yang baru dibangun yang menghadap kota dari tanjung Bukit Muqattam di dekatnya. Benteng tetap menjadi tempat tinggal para penguasa Mesir hingga akhir abad ke-19, dan berulang kali diubah di bawah penguasa berikutnya. Khususnya, Muhammad Ali Pasha membangun Masjid Muhammad Ali abad ke-19 yang masih mendominasi cakrawala kota dari sudut pandangnya yang tinggi.

Pasar dan bangunan komersial
Mamluk, dan kemudian Utsmani, juga membangun wikalas atau karavan untuk menampung para pedagang dan barang karena peran penting perdagangan dan perdagangan dalam ekonomi Kairo. Contoh paling terkenal yang masih utuh hingga hari ini adalah Wikala al-Ghuri, yang saat ini juga menyelenggarakan pertunjukan reguler oleh Kelompok Tari Warisan Mesir Al-Tannoura. Khan al-Khalili yang terkenal adalah pusat souq dan komersial yang juga mengintegrasikan karavan (juga dikenal sebagai khans).

 

 

Scroll to top